Rabu, 11 April 2018

Pentingnya Menuntut Ilmu Dalam Islam


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr.Wb akhi ukhti? Welcome back to V-blog lagi yaa.. sudah lama nih gak buat blog, kini aku bakal buat blog berbeda. Penasaran kan ?

Simak yu..

Akhi ukhti, kalian semua pasti sudah gak asing lagi kan dengan pentingnya menuntut ilmu’? nah, disini aku bakal explain tentang pentingnya menuntut ilmu dalam islam.

Gimana yaa?

Ilmu adalah kata yang berasal dari bahasa Arab علم, masdar dari عَـلِمَ – يَـعْـلَمُ yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge.   

Ilmu sangat penting dicari dan didapatkan

Sebagaimana firman Allah bahwa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ  الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر Artinya :"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan  memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah  kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat". Q.S Al-Mujadalah ayat 11 Nah, Allah SWT saja menyuruh umat-umat nya untuk menuntut ilmu, karena ilmu merupakan suatu kepentingan yang dapat membuat manusia memiliki pedoman dalam menjalankan kehidupannya. Ilmu sangatlah luas.Kita yang mencarinya.Ilmu tidak datang dengan sendirinya, namun kita yang menjemput dan kita yang mengamalkannya. Lantas, dari manakah ilmu didapat?

Secara umum, ilmu sebenarnya dapat didapatkan dimana saja selagi positif. Ilmu bisa didapat dari berbagai macam sumber, baik itu manusia, kejadian, tempat perkumpulan, bahkan binatang juga bisa, dan masih banyak lainnya. Nah, contohnya gimana sih ?

Contohnya,

Manusia : orang tua kita, ustadz/ustadzah, teman, saudara, orang lain, guru, dan lainnya.

Kejadian : misalnya peristiwa malin kundang. Dari peristiwa/kejadian tsb kita dapat mengambil ilmu atau memetik pelajaran bahwa menghormati, menghargai, dan menjunjung orang tua itu sangatlah penting. Jangan sampai menunggu Allah murka padamu.

Tempat perkumpulan :dakwah, majelis, dll.

Binatang : nah, kedengarannya sedikit aneh, namun siapa sangka, binatang pun memiliki jiwa dan perasaan. Contohnya, di yuoutube banyak sekali video heroik hewan dalam menolong satu sama lain.
Padahal bisa saja ada yang saling menyantap. Dari hal tsb dapat kita petik bahwa tolong menolong sangatlah penting.

            Namun, dalam perspektif islam, ilmu bisa didapatkan dari

1. Al-Qur’an

     Islam mengajarkan bahwa Allah SWT. merupakan sumber dari segala sesuatu, ilmu dan kekuasaannya meliputi bumi dan langit, yang nyata maupun yang ghaib, dan tidak ada sesuatu yang luput dari pengawasannya.     Firman Allah SWT. QS Taha ayat 98 yang Artinya : “sesungguhnya tuhanmu hanyalah Allah SWT. yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain  dia. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”. Allah SWT. adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan khusus keagamaan. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam semesta dan seisinya, adalah Allah yang maha mengetahui, ilmu keagamaan, sumber dan hukum-hukum dalam syariat islam, semuanya adalah bersumber dari Allah SWT.Allah yang menentukan dan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang syariat islam melalui utusannya nabi besar Muhammad SAW. Segala yang diajarkannya berasal dari Allah SWT. Allah yang menciftakan bumi dan langit, beserta seluruh isinya, yang didalamnya terdapat pengetahuan untuk dipelajari oleh umat manusia. sebagaimana disebutkan dalam surah Ar-Rahman ayat 1-4 bahwa Allah SWT telah mengajarkan kepada manusia Al-Qur’an, Ia juga mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.Artinya: “dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jka kamu memang orang-orang yang benar”.(Al-Baqoroh:31)Sumber ilmu yang primer dan utama adalah wahyu yang diterima oleh nabi Muhammad SAW yang berasal dari Allah SWT. sebagai sumber dari segala sesuatu. Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia yang mengimaninya. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu, Al-Qur’an menempati urutan pertama dalam hierarki sumber ilmu dalam epistemology islam. Al-Qur’an sebagai sumber ilmu, dijelaskan melalui ayat-ayat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia dan alam semesta, yaitu diantaranya dalam surah At-Takwir ayat 27, dan Al-Furqon ayat 1.Artinya: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam”.Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon (Al-Qur’an kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pertama dan yang paling utama, karena dari Al-qur’an lah semua ilmu berasal, dalam epistemology islam, sesuai dengan turunannya Al-qur’an menjadi yang pertama, yang selanjutnya sumber ilmu terdapat pada hadits nabi Muhammad SAW. Baik yang berupa ucapan, perbuatan, dan ketatapannya.


2. Hadits

Hadits adalah sumber ilmu yang kedua setelah Al-qur’an, dalam kaitannya dengan Alqur’an, hadits ada untuk menjelaskan sesuatu dalam al-Qur’an yang tidak terperinci. yang tergambar dari perbuatan, ucapan, dan ketatapan yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Allah SWT menyatakan bahwa Rasulullah SAW. Merupakan sumber ilmu yang akan mengajarkan kitab serta hikmahArtinya: “Sebagaiman (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu yang belum kamu ketahui.” (Al-Baqoroh: 151)Al-qur’an dan Hadits adalah pedoman hidup, sumber ilmu, dan ajaran islam, serta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Al-Qur’an merupakan sumber primer yang banyak memuat pokok-pokok ajaran islam, sedangkan Hadits merupakan penjelas (Bayan) bagi keumuman isi Al-qur’an.

3. Akal / Rasio (العقل)

Sumber ilmu selain wahyu dalam epistemology islam adalah akal (‘Aql) dan kalbu (qalb).’Aql sebagai mashdar tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, tetapi sebagai kata kerja ‘aqala (عقل) yang terdapat dalam al-Qur`an sebanyak 49 kali kosa kata dalam berbagai bentuk. Semuanya menunjukan unsure pemikiran pada manusia. Misalnya: عقلوا – تعقلون- نعقل – يعقل – يعقلون . sebagaimana berikut: kata عقلوه (‘aqaluh) dijumpai dalam 1 ayat, kata تعقلون (ta’qilun) 24 ayat, نعقل (na’qil) 1 ayat, يعقتها (ya’qiluha)1 ayat, dan يعقلون (ya’qilun) 22 ayat. Yang berarti paham dan mengerti.Dalam Lisan al-‘Arab dijelaskan bahwa al-‘aql berarti al-hijr (menahan) dan al-āqil adalah orang yang menahan diri (yahbis) dan mengekang hawa nafsu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa al-‘aql mengandung arti kebijaksanaan (al-nuhā), lawan dari lemah pikiran (al-humq).Al-‘aql juga mengandung arti al-qalb (kalbu). Lebih lanjut disebutkan bahwa kata ‘aqala mengandung arti memahami. Dari keseluruhan kosa kata yang berakar pada a-q-l dapat disimpulkan bahwa al-‘aql adalah fitrah manusia yang berfungsi untuk mengerti atau memahami sesuatu. Jelasnya akal merupakan fitrah yang dianugrahkan kepada manusia untuk mendapat ilmu pengetahuan.

4. Indera
Dalam Al-Qur`an alat-alat indera yang beraktifitas dan berfungsi bagi manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah al-sam’ dan al-absar. Kata al-sam’ dan berbagai kata jadiannya disebut 185 kali, sedangkan kata al-sam’ sendiri dijumpai 12 kali dalam Al-Qur`an. Kata al-absar dan berbagai kata jadiannya disebut 148 kali. Sementara kata al-absar disebut 18 kali.Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan indra dan akal sekaligus dalam pengalaman manusia, baik yang bersifat fisik maupun metafisik karena indra dan akal saling menyempurnakan.Ali Abdul Azhim berpendapat bahwa kedua sumber tersebut tidak terpisah dan tidak berdiri sendiri sebagaimana pemahaman empirisme dan rasionalisme. Allah SWT selalu menyeru manusia untuk mengingat dan menggunakan nikmat indra dan akal secara simultan.orang-orang yang mengabaikan indra dan kalbunya, maka akan tersesat dan jauh dari kebenaran.Artinya:”Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus: 131).Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (An-Nahl: 78).Artinya: “Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”. (Al-Mu`minun: 78).Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”. (As-Sajdah: 9).Manusia mempunyai kemampuan mendengar karena manusia diberikan alat berupa telinga (uzun) dan kemampuan melihat karena manusia diberikan alat berupa mata (‘ain). Mata, yang memiliki kemampuan melihat, bisa saja tidak memberi manusia pengetahuan, oleh karena qalbu-nya tidak paham (buta). Sesuatu yang jelas terlihat bahwa bagi Al-Qur`an, al-sam’ dan al-basr adalah aktifitas

5. Hati (Fuad)

Kata fu`ad dan yang seakar kata dengannya tersebar dalam 16 ayat. Semuanya dalam bentuk kata benda, yakni al-fu`ad dan al-af`idah. Mahmud Yunus mengartikannya sebagai hati atau akal. Kedua kata ini seakar dengan fā`idah (jamak: fawā`id) artinya faedah atau guna. Makna yang dapat ditarik dari penggunaan Al-Qur’an terhadap kata al-fu`ad dan al-af`idah adalah bahwa al-fu`ad memiliki fungsi akal (memahami, mengerti), sama dengan al-qalb.و كلا نقص عليك من انباء الرسل ما نثبت به فؤادك وجاءك في هذه الحق و موعظة و ذكرى للمؤمنين Artinya:”Dan semua kisah-kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman”. Secara tekstual, Allah menceritakan, yang bermakna Nabi Saw mendengarkan kisah-kisah Rasul terdahulu. Lalu dengan kisah-kisah itu menjadi kuat ¬fu`ad (hati) Nabi. Dengan al-fu’ad itu berarti Nabi mendapatkan makna atau hikmah sejarah.Dalam ayat lain disebutkan: و اصبح فؤاد ام موسى فرغا ان كادت لتبدي به لولا ان ربطنا على قلبها لتكون من المؤمنين Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh hampir saja dia menyatakan (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).Makna al-fuad dalam ayat terakhir juga sama dengan makna al-fuad pada ayat sebelumnya. Makna yang sama juga dinyatakan oleh Allah ketika menjelaskan bahwa hati Nabi Saw tidak mendustakan apa yang ia lihat oleh beliau ketika Jibril mendekat kepadanya untuk menyampaikan wahyu. Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa al-fu`ad merupakan pusat dan pengendali bagi aktifitas al-‘aql dan al-qalb dalam menetapkan pengetahuan yang benar, baik dan berguna bagi manusia.Secara umum, bagi Al-Qur`an indera dalam dan luar manusia seperti al-‘aql, al-qalb, al-fu’ad, al-sam’, al-absar adalah alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dan obyek pengetahuan adalah ayat-ayat Allah baik yang qauliyah/tanziliyah maupun yang kauniyah. Berbeda sekali dengan perspektif Barat yang memandang bahwa akal dan indera sebagai fakultas yang memberi manusia pengetahuan. Hemat penulis, Barat berpandangan demikian karena hirarki pengetahuan mereka hanya berhenti pada tataran empirikal. Asumsi-asumsi teologis-metafisik telah terputus dari epistemologi keilmuan Barat, sejalan dengan pandangan humanis mereka yang sekular-ateistik.Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus meyakini bahwa sumber ilmu yang utama itu adalah Al-Qur’an, dan dari Al-Qur’an ilmu pengetahuan berasal. Kajian para ilmuan tentang berbagai disiplin ilmu dan berbagai fenomena yang terjadi, sudah dibahas dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an ilmu-ilmu itu diperjelas kembali oleh As-sunnah (hadits), sebagai turunannya. Seorang muslim menjadikan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Selanjutnya dalam qaidah pengambilan hukum dalam islam digunakan pula landasan berupa ijma’ (Qaul ulama) yang disandarkan pada Al-Qur’an dan hadist, dan yang terakhir Qiyas sebagai sarana untuk kaum muslim melakukan ijtihad dengan metode Qiyas sesuai dengan qaidah yang berlaku dikalangan ulama mujtahid. Lalu, setelah menjelajahi sumber ilmu, sebenarnya apa sih akhi ukhti manfaat ilmu ?
Berikut manfaat menuntut ilmu dalam pandangan islam yaitu:
  1. Mengenalkan Dirinya Pada Dunia Luar
  1. Titik Awal dari Setiap Kehidupan Manusia
  1. Memperoleh Kemuliaan
  1. Memperoleh Kesejahteraan
  1. Memperoleh Kebijaksanaan
  1. Mengetahui Bahwa Allah Maha Besar
  1. Mengajarkan Untuk Bersyukur
  1. Mengamati Ciptaan Allah
  1. Menularkan Ilmu Bermanfaat
  1. Berguna Bagi Sesama
 Kemudian bagaimana cara kita mengimbangi antara ilmu duniawi dengan ilmu agama ang bersifat abadi? Bukankah dua hal tersebut bisa dikatakan  berbeda?

Tentu saja bisa, namun ada persamaanya pula. ilmu agama bisa menyangkut ilmu duniawi namun tidak dengan ilmu duniawi yang tak terbawa sampai ke akhirat dan memang perlu diimbangi. Ilmu agama dan ilmu duniawi sama-sama perludikejar, namun janganlah akhi dan ukhti terlarut dalam ilmu dunia seutuhnya. Karena bagaimana pun, yang kekal dan abadi tetaplah ilmu agama atau keimanan. Ilmu dunia memang bermanfaat bagi kehidupan kita, namun ilmu agama  juga lebih penting karena menyangkut kehidupan kita setelah kematian. Seperti halnya dalam kutipan Buya Hamka
 

“Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, namun apabila ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.”
 Dari kutipan diatas dapat kita ambil makna bahwa sejauh apapun kau mengejar ilmu duniawi, selama imanmu masih dangkal, sangatlah percuma, akhi ukhti.  

Nah, lalu bagaimana cara ampuh mengamalkan ilmu yang didapat? Caranya yaitu, apabila ada seseorang yang bertanya tentang pelajaran yang tidak dimengerti, cobalah membantunya, nah disitulah kita bisa mengamalkan ilmu kita kepada orang lain meskipun sedikit. lalu yang lainnya bisa saja kita melakukan suatu pekerjaan dengan ilmu yang telah kita dapat, beretika selayaknya orang berilmu dan lain-lain alhi ukhti.

oke, mungkin cukup dulu sampai disini, see you in the next blog!

salam pejuang surga,
Wassalamu'alaikum Wr.Wb


sumber
http://www.ilmusaudara.com/2015/10/dalil-al-quran-dan-hadit-tentang.html
https://brainly.co.id/tugas/1616665
https://cengmamun.wordpress.com/2015/04/21/sumber-sumber-ilmu-dalam-perspektif-islam/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar